Commitment is about doing whatever it takes.—Anonymous

Tidak Kalian Baca Rupanya?

Thursday, June 21, 2007

Saya tidak terlalu mengerti mengapa Kompas (21/6) hari ini mengatakan puisi di bawah ini sebagai isyarat kerinduan SBY akan harmoni. Puisi ini dibuat dan dibacakannya secara spontan dalam sebuah acara pada tanggal 14 yang lalu.

Terbanglah wahai kebebasan
bersama angin dan burung-burung camar di langit biru
yang melambai dan terus mengepak
melantunkan dendang dan salam rindu


Pertamanya memang terkesan indah dan mendayu-dayu sih. Ada angin, burung camar, melambai, mengepak... Ada pula dendang dan salam rindu. Amboi... Siapapun yang mendengar pasti terbuai.

Tapi tidak kalian baca rupanya baris pertama puisi itu? Dia jelas-jelas ingin kebebasan di negeri ini terbang jauh bersama angin dan burung-burung camar segala macam, yang melambai mengepak berdendang... di langit yang biru hantu blau!

17 Komentar:

Blogger trian h.a »
21 June, 2007 08:48  

melambai, melantunkan dendang menjadi semacam simbol ketenangan, damai, selaras. jadi wajar jika Kompas menafsirkannya harmoni.

sedang kebebasan diawal, gimana kalau it diartikan untuk menerbangkan tinggi kebebasan, sehingga kebebasan tak ada di 'darat' lagi? mirip frase bebas banjir yg 'diartikan', banjir bebas masuk. atau jam anti air --> air tak boleh kena jam.

*just enjoy it :)

Blogger ikram »
21 June, 2007 14:38  

Sehingga kebebasan tak ada di 'darat' tempat kita tinggal?

Ya itu kan berarti nggak ada kebebasan?

Eh setelah saya pikir-pikir, Kompas mungkin benar. Dengan tidak adanya kebebasan, mungkin harmoni bisa tercipta :)

*ini sedang berusaha menikmati puisi

Blogger tukrabul-aqdam »
21 June, 2007 16:23  

KRAM, nasionalis dikit napa? kalo si Andy Mallarangeng di sini, dia pasti bilang, "right or wrong, he is your president!"

huehehehe.. ya nggak, Pak Andi?? *kabarnya SBY pantau blog-blog kitorang lho.. :D

Anonymous wiku »
22 June, 2007 00:18  

Hmm.. entah deh. kurang ngerti masalah puisi :D Cuma kalo memang artinya banyak. Ambil yang artinya positif aja ah :)

Blogger ikram »
22 June, 2007 10:22  

Loh Rif, hubungannya dengan nasionalisme apa? Ini kan apresiasi puisi biasa :)

Menurut aku sih baris pertama puisi itu memang benar-benar menginginkan kebebasan terbang.

Terbanglah wahai kebebasan

Sangat jelas, bukan?

Wiku, kok masih santai-santai sih. Sebentar lagi kita mungkin nggak bisa memblog lagi loh! Hahahhaa.

*menakut-nakuti

Blogger Sandy Eggi »
22 June, 2007 16:50  

mungkin saja artinya dia ingin bebas yang hakiki .. bebas yang tidak terikat .. jadi bebas bisa terbang ...dan pergi kemana-mana ..

malah bingung ngga sih ..

Blogger tukrabul-aqdam »
22 June, 2007 19:34  

Ikram, gw dah two steps ahead: (1) apresiasi puisi, dan (2) resepsi pembaca. :D

(1) gw setuju! logika SBY kacau! dan wartawan Kompas nyang muji-muji puisinya lebih bego lagi.

dan (2) kalo ada si Andi di sini, mungkin dia bilang, "Ikra, mbok ya jangan jelek-jelekin presiden sendiri, gak nasionalis loe."

inget jawaban JK atas puisi kritis guru SD kan??

heheh..

Blogger ikram »
23 June, 2007 00:42  

Hehehehehehe.

Saya nggak menjelek-jelekkan presiden sendiri Pak Andi, saya cuma membicarakan puisinya.

Jujur Rif, saya lebih takut orang Kompas baca blog ini daripada Andi Malarangeng :P

Kamu tahulah alasannya... Haha.

Blogger sigit »
24 June, 2007 01:20  

Huahahaahahahahaha........!!!!!!!!!

Manusia itu memang lucu ya.

Harmoni? KOMPAS hanya pengen dianggap pintar mengapresiasi puisi.

Sebetulnya sangat unik mendengar Presiden kita yang kalem, kini menyuarakan "kebebasan" seperti Jack Sparrow.

Setiap orang mendambakan kebebasan. Hanya saja kalau ada orang lain malah menganggap kita mendambakan "harmoni", mungkin kita akan lega karena orang lain tidak tahu apa yg sebenarnya tersembunyi di dalam hati.

Itulah puisi. Antara kamu, dia, dan mereka.

Blogger beni suryadi »
25 June, 2007 10:49  

kram, semalam di running text nya MetroTV gw baca berita, "presiden SBY marah besar atas berbelit2nya urusan penggantian korban lapindo"

gw mpe sekarang masih bingung, kalo pak SBY itu marah besar kayak apa ya?

bukannya tu orang selalu senyum... hehehe

eh kalo lu ada info lanjut tentang ini kabarin gw kram...serius, penasaran gw... di bandingin ma MacKenzie Allen yang di Chomander in Chief =D

Anonymous octea »
25 June, 2007 23:35  

ah biarin aja kram! lagi pusing tuh bapak satu kita itu! maksudnya tuh dia pengen sekali2 terbang gitu dech

hehehehehehe ( gak penting abis )

Anonymous rime »
26 June, 2007 14:39  

beginilah kalo maksa bikin puisi.. =p

Blogger Evi Kaye »
26 June, 2007 19:23  

halo, salam kenal bang kramput!
kalo gw sih denger puisi ini di TV. emang sih begitu denger kalimat pertamanya "Terbanglah wahai kebebasasn!" gw langsung nyeletuk: "Yah, berarti gak bebas dong. terikat peraturan?" gitulah pokoke. kakak gw yang denger celetukan gw cuman nyengir. setuju. tapi gw sih ga begitu nanggepin, soalnya Pak SBY kan bikinnya tanpa direncanakan.. langsung pada saat itu juga. politisi berpuisi? jelas pada awalnya bakal ngaco!!

Blogger zenrs88@gmail.com »
27 June, 2007 20:46  

Bagaimana dengan kalimat:

"Burung itu kini bisa terbang setelah sebelumnya dikerangkeng pemilkinya di sangkar."

Seperti juga dengan kalimat:

"Kebebasan itu kini bisa terbang setelah sebelumnya dikerangkeng orde baru di bawah laras sepatu militerisme!"

Blogger ANDRE »
29 June, 2007 17:05  

zenrs88:

dikerangkeng pemiliknya = dimiliki oleh pemiliknya

kalo kebebasan bisa terbang setelah sebelumnya dikerangkeng (dimiliki), berarti sekarang sudah tidak dimiliki lagi donk???

logika ikram paling masuk akal

Blogger zenrs88@gmail.com »
30 June, 2007 16:46  

Andre yang baik, kalau logikanya begitu, maka baguslah. Itu artinya, kebebasan sudah tidak lagi dimiliki oleh yang mengerangkengnya (orde baru dan militer dalam analogi kalimat saya sebelumnya). Kebebasan sudah kembali ke fitrahnya yang tak terkerangkeng. Bukankah bukan lagi kebebasan jika terkerangkeng?

Bukan begitu, Ndre?

Blogger tukrabul-aqdam »
30 June, 2007 18:40  

broer.. logika paling salah di puisi SBY adalah menganggap 'kebebasan' sebagai obyek yang bisa dimiliki, bukan 'keterangan keadaan' yang hanya bisa dirasakan.

tapi ya namanya puisi, bebas aja toh? kan ada asas lisensia poetica. SBY mo bilang kebebasan seperti burung bebas, kadal jogging, kodok ngenthot... ya ga bisa disalahin. cukup diketawain aja. :D

Leave a reply Back to home

tentang saya

tulisan sebelumnya

arsip

IkramPutra©2010 | thanks for stopping by