Dilema mahasiswa
Wednesday, December 02, 2009
Pak Dosen yang sudah sepuh itu sedang serius menulis di papan tulis ketika saya mengetok pintu dan minta izin masuk kelas. Melalui ekor matanya dia memperhatikan saya, si mahasiswa yang selalu kebetulan datang terlambat, berjalan masuk dan duduk di bangku barisan terdepan.
“Udah telat, duduknya di depan lagi.” Dia berkomentar pendek sambil membalikkan badan.
Saya nyengir saja. Memangnya mau duduk di mana lagi? Tanpa repot-repot, saya langsung tahu kok bangku barisan belakang pasti sudah penuh oleh mahasiswa yang datang lebih dahulu. Itu kan hukum alam.
Matanya menatap tajam ke muka saya. Lalu turun perlahan-lahan. Dan…
“Pakai sendal jepit?!”
Alamak. Bodoh betul saya bisa-bisanya lupa kalau peraturan institut ini mengharuskan mahasiswa mengenakan sepatu ketika ikut kuliah (dengan satu pengecualian: tidak ketahuan).
Supaya tidak ketahuan itulah hukum alam “isi-barisan-belakang-lebih-dulu” tercipta.
Seakan ada gunanya, saya menarik kaki perlahan supaya tersembunyi di bawah bangku. Menggantang asap.
“Ah, tapi saya sih udah capek menyuruh mahasiswa pakai sepatu.”
“Kenapa Pak? Hehe.”
Sebab kacamata yang tertengger di hidungnya itu tak berguna buat melihat jauh, ia pun menunduk dan kembali menatap saya. “Dari dulu mahasiswa selalu cari-cari celah.”
Puluhan tahun silam, katanya, ketika peraturan “harus memakai sepatu” disosialisasikan, mahasiswa bereaksi. “Sepatu itu apa? Definisi harus jelas,” katanya menirukan.
Akhirnya definisi pun diamandemen.
Sampai sini giliran saya yang tak kuasa menahan senyum. Ini cerita sungguhan, atau dia sedang guyon? Seisi kelas mulai gelisah menanti kelanjutan cerita.
Akibatnya, dia melanjutkan kisah, dosen-dosen memutar otak. Kali ini, peraturan yang diamandemen.
“Hahahaha. Terus Pak?”
“Pas kita tanya, jawabannya gini: ‘Yang dilarang itu kan memakai sendal jepit. Saya kan nggak pakai [sandal jepit], jadi saya nggak melanggar peraturan’”.
Maling selalu lebih pintar dari polisi? :P
“Udah telat, duduknya di depan lagi.” Dia berkomentar pendek sambil membalikkan badan.
Saya nyengir saja. Memangnya mau duduk di mana lagi? Tanpa repot-repot, saya langsung tahu kok bangku barisan belakang pasti sudah penuh oleh mahasiswa yang datang lebih dahulu. Itu kan hukum alam.
Matanya menatap tajam ke muka saya. Lalu turun perlahan-lahan. Dan…
“Pakai sendal jepit?!”
Alamak. Bodoh betul saya bisa-bisanya lupa kalau peraturan institut ini mengharuskan mahasiswa mengenakan sepatu ketika ikut kuliah (dengan satu pengecualian: tidak ketahuan).
Supaya tidak ketahuan itulah hukum alam “isi-barisan-belakang-lebih-dulu” tercipta.
Seakan ada gunanya, saya menarik kaki perlahan supaya tersembunyi di bawah bangku. Menggantang asap.
“Ah, tapi saya sih udah capek menyuruh mahasiswa pakai sepatu.”
“Kenapa Pak? Hehe.”
Sebab kacamata yang tertengger di hidungnya itu tak berguna buat melihat jauh, ia pun menunduk dan kembali menatap saya. “Dari dulu mahasiswa selalu cari-cari celah.”
Puluhan tahun silam, katanya, ketika peraturan “harus memakai sepatu” disosialisasikan, mahasiswa bereaksi. “Sepatu itu apa? Definisi harus jelas,” katanya menirukan.
Sepatu adalah alas kaki yang menutup jari-jari kaki sehingga tak terlihat.“Eh ada satu anak malah pake sendal jepit pake kaos kaki,” dia mengenang. Sekilas saya melihat dia seperti berusaha menahan senyum.
Akhirnya definisi pun diamandemen.
Sepatu adalah alas kaki yang menutup jari-jari kaki sehingga tak terlihat serta menahan tumit. Sehingga kalau menendang, alas kaki tak terbang.“Eh tu anak malah dateng pake sendal jepit, pake kaos kaki, trus ada karet gelang di bagian tumit. Katanya biar nggak lepas.”
Sampai sini giliran saya yang tak kuasa menahan senyum. Ini cerita sungguhan, atau dia sedang guyon? Seisi kelas mulai gelisah menanti kelanjutan cerita.
Akibatnya, dia melanjutkan kisah, dosen-dosen memutar otak. Kali ini, peraturan yang diamandemen.
Mahasiswa dilarang memakai sandal jepit di kelas.“Kita pikir dia mati langkah deh tuh,” kata Pak Dosen mengernyit. “Ternyata nggak. Itu anak dateng, copot sendal di pintu trus masuk kelas telanjang kaki.”
“Hahahaha. Terus Pak?”
“Pas kita tanya, jawabannya gini: ‘Yang dilarang itu kan memakai sendal jepit. Saya kan nggak pakai [sandal jepit], jadi saya nggak melanggar peraturan’”.
Maling selalu lebih pintar dari polisi? :P

