Commitment is about doing whatever it takes.—Anonymous

Indonesia Sukses dengan Teleconference?

Monday, September 13, 2004

"Politic is good, dia menjadi jelek karena Anda nggak ikut di dalamnya..."
-Kusmayanto Kadiman, Rektor Institut Teknologi Bandung

Setidaknya sudah ada dua peristiwa yang menunjukkan, betapa ITB tak bisa dengan mudah terlihat bersikap netral di tengah suasana politik yang kian menghangat menuju 20 September kelak. Peristiwa pertama, pembicaraan jarak jauh Kusmayanto Kadiman dengan Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (23/8) di Sasana Budaya Ganesha. Di acara itu SBY "berbagi pemikiran" dan menjanjikan pemenuhan anggaran pendidikan menjadi 20 persen dari APBN. Atau dengan kata lain, ia berkampanye.

Yang kedua adalah pemaparan keberhasilan pemerintahan Megawati dalam acara Temu Silaturahmi Ikatan Alumni ITB, Jumat (3/9) di Aula Timur. Ratusan buletin "Indonesia Sukses" sudah sempat akan disebarkan, sebelum akhirnya diketahui mahasiswa dan ditarik kembali. Adalah Laksamana Sukardi, Menteri Urusan BUMN yang juga Ketua IA-ITB, yang dituding berkampanye bagi Megawati dalam acara tersebut.

Sebenarnya, ITB memiliki tiga komponen yang saling terkait, yaitu: rektorat, mahasiswa, dan alumni. Masing-masing komponen ini turut mewarnai pencitraan ITB di masyarakat. Akan sulit bagi ITB untuk terlihat netral, jika salah satu dari tiga komponen ini memang tidak netral dari awal. Meskipun berbicara sebagai ketua Ikataan Alumni, tingkah Laksamana Sukardi yang memuji-muji keberhasilan pemerintahan Megawati akan berpengaruh netralitas ITB seluruhnya.

Tulisan ini akan lebih mengamati pergerakan "ITB sebagai institusi akademik" yang dipimpin Kusmayanto Kadiman.

***

Institut Teknologi Bandung telah menggariskan perjalanannya bersentuhan dengan dunia politik, terutama sejak masa kampanye legislatif April silam. Kusmayanto, seizin ketua Senat Akademik, mempersilakan partai politik untuk berkampanye di dalam kampus. Menurutnya, membolehkan kampanye dapat memberikan pelajaran politik kepada warga kampus.

Kusmayanto membantah anggapan politik adalah sesuatu yang kotor, dengan ucapannya yang dikutip di awal tulisan ini. Ia yakin jika pelaku-pelaku politik berlaku baik, maka politik juga akan jadi baik.

Walaupun sempat memancing kontroversi -- pihak yang kontra berargumen kampus seharusnya netral -- pelaksanaan kampanye legislatif akhirnya tetap berlangsung di bawah pengaturan sebuah Satuan Tugas Pemilu ITB. Setiap partai politik mendapat kesempatan yang sama menyuarakan janji-janjinya secara resmi dan legal di depan mahasiswa ITB.

***

Sayangnya, usaha menjadikan politik sebagai sesuatu yang ilmiah, rasional, dan terpuji tidak terlaksana dengan mulus. ITB justru terpengaruh dan tergelincir ke ranah politik praktis-pragmatis. Perbedaan antara mana kegiatan politik "resmi" dan mana yang tidak, menjadi semakin buram. Apalagi dengan adanya acara-acara bertendensi kampanye yang dikemas dalam sebuah acara ilmiah.

Sebelum masa kampanye presiden-wakil presiden dimulai, contohnya, ITB telah menghadirkan Amien Rais untuk berbicara dalam Studium Generale (kuliah umum) yang bertajuk "Pemikiran untuk Indonesia Lima Tahun Mendatang". Sulit untuk menghilangkan kecurigaan acara itu adalah kampanye, terlebih mengingat judulnya. Dan pekan depannya, datang pula Siswono Yudohusodo.

Semakin besarlah kecurigaan bahwa ITB memudahkan dua figur ini "mencuri start". Seakan belum cukup, pekan selanjutnya giliran Jusuf Kalla menyambangi kampus tertua di Indonesia ini. Hanya Salahudin Wahid yang resmi berkampanye ke almamaternya. Dan fatalnya, setelah putaran pertama pemilihan presiden, ITB seakan tidak dapat menahan diri untuk tidak "menghadirkan" lagi figur calon presiden yang tersisa.

Maka, momen berikutnya adalah saat upacara penerimaan mahasiswa baru 2004. Sebagai demonstrasi peluncuran kartu pintar, mereka disuguhi teleconference SBY-Kusmayanto. Sebelum menelepon SBY, Kusmayanto sempat menghubungi Megawati namun gagal, hanya sampai di operator dan protokol Istana Negara. SBY sendiri mengaku dirinya mengetahui bahwa Megawati juga diajak.

Dengan begini, netralkah Kusmayanto?

Tidak. Ia hanya bersikap adil.

***

Persoalan tidak berhenti sampai sejauh mana kesempatan diberikan kepada pihak Megawati. Lebih jauh, penetapan SBY dan Megawati sebagai tokoh yang dihubungi untuk berbincang itulah masalahnya. Untuk apa sebuah demonstrasi percakapan jarak jauh harus dilakukan dengan figur calon presiden? Apa relevansi antara "pemaparan pemikiran" seorang calon presiden dengan upacara penerimaan mahasiswa baru di ITB?

Akan lebih masuk akal jika misalnya, Kusmayanto berbincang dengan seorang tokoh pendidikan. Atau tokoh lain yang tidak ada kaitannya dengan perpolitikan nasional (sebab forumnya pun bukan forum politik). Bukankah itu lebih elegan dan netral?

Sungguh sayang, sebuah niatan mulia untuk memetik pelajaran politik bagi warga kampus harus menyeret ITB ke dunia politik praktis-pragmatis. Kecemasan berbagai pihak yang semula kontra terhadap kampanye dalam kampus, kini semakin menemukan keterbuktiannya. []


------
Catatan: Acara Studium Generale itu ditolak mahasiswa, sebab dianggap sebagai acara rektorat. Alasannya, pada saat yang hampir bersamaan, akan berlangsung syuting Kupas Tuntas Calon Presiden produksi Trans TV di Sasana Budaya Ganesha, dengan tokoh yang sama. Trans TV bekerjasama dengan mahasiswa untuk pelaksanaan syuting ini.

Demonstrasi SmartCard: Smart Move, Kus!

Wednesday, September 01, 2004

Ikram Putra

"Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam... Horeee!!! Plok plok plok!"

Layaknya orang yang menanti pergantian tahun, seisi ruangan Sasana Budaya Ganesha berteriak dan bertepuk tangan riuh-rendah siang itu, saat sesosok wajah tergambar jelas di layar putih (big screen) di panggung.

Wajah itu tak asing lagi bagi semua hadirin; seorang pensiunan jenderal yang sekarang sedang menguji strategi dan ketangguhan menuju kursi presiden RI: Susilo Bambang Yudhoyono. Mengenakan jas hitam, kemeja putih, dan dasi merah, Susilo tampak serasi dengan bendera merah putih di sebelahnya. Ia berdiri di atas mimbar putih dengan dua mikrofon, tak lupa tersenyum.

Setelah suasana sunyi sesaat, Rektor Institut Teknologi Bandung Kusmayanto Kadiman mulai menyapa Susilo. Dan dimulailah teleconference fenomenal yang mengingatkan kepada aktivitas kelompencapir pada masa Soeharto dulu.

Kusmayanto berbasa-basi sedikit. "Izinkan kami menyapa Bapak. Saat ini sedang berlangsung Sidang Senat Penerimaan Mahasiswa Baru, yang berjumlah 3500 orang," katanya. Susilo lalu menyelamati para mahasiswa baru, dengan mengatakan bahwa pilihan masuk ITB adalah pilihan yang tepat. "ITB merupakan center of excellence," pujinya. Ucapan ini langsung disambut dengan tepukan tangan seisi ruangan yang sontak kegirangan.

Lalu ada yang aneh di sini: Susilo melanjutkan pujian tadi dengan penyampaian pikirannya. Tentang pendidikan, teknologi, dan good governance. Ia berpanjang lebar -- sekitar 20 menit -- mengajak kita semua "melihat ke depan", "pendidikan sebagai hak dasar rakyat", dan jargon-jargon politik lainnya, yang sepantasnya terlontar ketika masa kampanye. Ia juga memohon kontribusi ITB dalam perkembangan teknologi Indonesia.

Setelah "pemaparan pemikiran" itu, Kusmayanto membuka kesempatan bertanya kepada Susilo. Tanpa banyak basa-basi, Jaka (Elektro 2004) bertanya: adakah kepentingan politik dalam teleconference ini? "ITB seharusnya lebih netral" tambahnya, meminta penjelasan. Ia juga bertanya sikap Susilo tentang anggaran pendidikan yang semestinya 20 persen dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara.

Susilo menjawab, ia diberitahu stafnya bahwa Megawati juga diajak. Dan baginya, "makin banyak rakyat yang tahu pikiran saya, makin baik". Anggaran pendidikan pun akan diusahakannya menuju 20 persen, jika dirinya terpilih menjadi presiden.

Biang keladi terjadinya percakapan yang menjurus ke arah kampanye ini adalah peluncuran produk hasil kerjasama ITB-BNI-Telkom. Kerjasama ini membuahkan apa yang disebut SmartCard, sebuah kartu pintar yang berfungsi sebagai kartu mahasiswa, kartu ATM, kartu perpustakaan, juga kartu telepon. Peluncuran ini diadakan setelah usainya acara penerimaan mahasiswa baru 2004, pada 23 Agustus lalu. Sebenarnya yang ditelepon bukan Susilo saja. Ada pihak lain juga, tetapi belakangan batal. Jadilah Susilo pidato solo tanpa yang lain.

Ehm, habis ini mau telfon-telfonan sama siapa lagi, Om Kus? []


------
SELASAR 5, 30 Agustus 2004

tentang saya

tulisan sebelumnya

arsip

IkramPutra©2010 | thanks for stopping by