Commitment is about doing whatever it takes.—Anonymous

Jangan menikah di Mekkah!

Thursday, June 18, 2009

Begitulah yang dikatakan artikel TempoInteraktif hari ini — yang membuat daftar kasus kegagalan pernikahan yang menimpa pasangan selebritas yang menikah di Mekkah, atau Jeddah, atau apapun yang penting Arab.

Artikel yang aya-aya wae (kalau ono-ono wae itu kampanye SBYBoediono).

Logika macam apa sih yang mencoba mempertautkan antara lokasi dan kesuksesan/kegagalan sebuah pernikahan?
Artis Menikah di Tanah Suci Banyak Bermasalah?

Rabu, 17 Juni 2009 | 16:08 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Cici Paramida, yang berseteru dengan suaminya, mengingatkan bahwa sejumlah pasangan artis yang menikah di Makkah malah berakhir dengan perceraian.

Cici Paramida, pada Minggu (14/6), ditabrak oleh suami sendiri, Ahmad Suhaeby. Suaheby menabrak karena Cici menangkap basah suaminya sedang bersama perempuan lain.

Pernikahan Cici yang berantakan, meski baru sekitar dua bulan itu berlangsung, mengingatkan kepada kita sejumlah selebritis yang nasibnya hampir serupa. Mereka menikah di Tanah Suci tapi pernikahannya berantakan.

Artis itu diantaranya:

Tamara Bleszynski dan Teuku Rafly Pasya
Tamara dan Rafly menikah di Jeddah pada tahun 1997. Keharmonisan mereka sempat dianggap sebagai lambang dari "kerukunan keluarga". Tapi keduanya bercerai pada 3 Januari 2007.

Paramitha Rusady dan Gunawan
Paramita dan Gunawan menikah di Jeddah pada 9 Juni 2000 tapi hanya bertahan dua tahun. Mereka bercerai 2002.

Tya Subiakto dan Rudy Hamid
Tya Subiakto dan Rudy Hamid menikah di Jeddah pada 14 Januari 2001. Pada 21 Maret 2002 terjadi konflik antar keduanya dan bahkan Tya sendiri sempat menuntut cerai suaminya, namun perseteruan itu akhirnya berakhir dengan rujuk.

DANANG PRIAMBODO

26 Komentar:

Blogger Nadya Fadila »
18 June, 2009 18:30  

hahahaa,
sdr. Danang P ini seenaknya menggeneralisir!!!

Blogger melur »
18 June, 2009 18:57  

Sungguh kesimpulan yang kontroversial! Bukan begitu, Bapak Redaktur?

Blogger lilylove »
18 June, 2009 19:04  

Hmmm begini kali ya kalau kita kehabisan bahan berita :(

Blogger ikram »
18 June, 2009 19:55  

Nadya, dan Melur,

Persis.

Ada begitu banyak pernikahan yang gagal yang diselenggarakan di Indonesia. Kenapa tak ditulis dan didaftar juga sekalian?

Lily, touché!! :P

Blogger Benx »
19 June, 2009 10:36  

Satu pertanyaan, Bos.
Apakah yang menjadi permasalahannya? Artikelnya terlalu rendahan untuk tampil di media sekelas Tempo Interaktif?

Blogger ikram »
19 June, 2009 10:50  

Di media manapun, Ben. Bahkan di media terbitan mahasiswa. Kesalahan logika itu kan bisa menular :)

Blogger osman.saftari »
19 June, 2009 11:10  

Hmm..
Harusnya Pak Danang ini menyertakan pernikahan yang diselenggarakan di Mekkah dan tidak gagal supaya ada perbandingannya.

Blogger turabul-aqdam »
19 June, 2009 15:33  

tulisan itu kan pake judul bertanda-tanya. jadi, message tulisan itu adalah: "pembaca, jawablah saya." alias.. penulis bingung dengan arah tulisannya sendiri. kayanya perlu ikut kursus jurnalistik inwent, nih.. :D

tapi, aku sepakat ga usah nikah di mekkah. selain ga ada perintah di islam untuk nikah di sono, biaya perjalanannya pun mahal, mendingan disalurkan untuk kaum duhafa di sekitar.

Anonymous ariemega »
20 June, 2009 00:56  

hhhuuu.. katanya gag mau ditulis di blog.. hihihihihihi

Blogger Floresiana Yasmin Indriasti »
20 June, 2009 05:38  

topik kayak gini juga dibahas sama acara2 di tv lho kram.
memang aneh..

Blogger Benx »
20 June, 2009 14:46  

Bisa menular, iya.
Tapi logika salah dan benar itu yang mana, tidak ada defenisi atau batasan bakunya, kan? atau ada?

Kalau ada, siapa yang menentukan?

Dan juga, jika tulisan tersebut munculnya di Koran Lampu Hijau, masih menarik untuk diperbincangkan kah?

OpenID raie »
21 June, 2009 01:31  

tempo???kok isinya jadi berita gosip ya.ckckck.

Blogger azhar »
22 June, 2009 09:35  

Kalo menikah di Mesir gimana?

*m0de Ayat-ayat Cinta

Blogger ikram »
22 June, 2009 09:50  

@Beni: Batasan logika yang ngawur dan tidak, tentu ada dong.

A: Cici Paramida menikah di Mekkah.
B: Pernikahan Cici Paramida gagal.
C: Beberapa artis menikah di Mekkah, dan pernikahannya juga gagal.

D: Pernikahan yang dilangsungkan di Mekkah akan gagal.

Kita memang akan lebih mudah maklum jika berita seperti ini muncul di tabloid gosip, atau Lampu Hijau.

Blogger Benx »
22 June, 2009 13:05  

Pertama, kalau kita melihat ke pranalanya, http://tempointeraktif.com/hg/gosip/2009/06/17/brk,20090617-182426,id.html

tulisan ini memang munculnya di bagian gosip. Yang namanya gosip, ya tidak cukup penting untuk dikomentari.

Kedua, kalimat yang menyimpulkan logika/kesimpulan D tersebut di paragraf yang manakah?

Saya mencoba untuk membaca kembali tulisan tersebut. Mas Danang tersebut dalam tulisannya cuma menyampaikan "mengingatkan". Dia sama sekali tidak menyatakan sebuah kesimpulan dari pertautan logika dari beberapa fakta kejadian yang ada.

Please englight me, kalimat yang mananya? Terimakasih.

beni,suryadi

Blogger ikram »
22 June, 2009 13:47  

@Beni:

“Cici Paramida, yang berseteru dengan suaminya, mengingatkan bahwa sejumlah pasangan artis yang menikah di Makkah malah berakhir dengan perceraian.”

“Pernikahan Cici yang berantakan, meski baru sekitar dua bulan itu berlangsung, mengingatkan kepada kita sejumlah selebritis yang nasibnya hampir serupa. Mereka menikah di Tanah Suci tapi pernikahannya berantakan.”

Perhatikan penggunaan kata “malah” dan “tapi”, yang bertujuan untuk menekankan ironi. Seakan-akan ini sebuah fakta mengejutkan — menikah di Mekkah kok malah berujung perceraian?

Well, sekali lagi harus kita katakan, tidak ada kaitan antara lokasi pernikahan dengan tingkat kesuksesan/kegagalan.

Blogger Benx »
23 June, 2009 09:34  

@ikram

Lanjutin ga ni diskusinya? ;-)

Blogger ikram »
23 June, 2009 10:06  

@Beni:

Jumat malem ngopi kita? :P

Anonymous basfin »
23 June, 2009 16:08  

ada kaitannya tentu. wong kepak sayap kupu2 di brazil aja bisa dikait-kaitkan dg terjadinya tornado di texas, kenapa soal ini ngga? :)

Mekkah (masjidil haram, specifically) adalah kompleks rumah Allah. Orang yang ke sana menunaikan ibadah haji adalah tamu Allah.

Tapi rupanya ada tamu yg punya 'agenda tambahan sendiri', yg yah, mungkin saja, lebih memprioritaskan itu dibanding agenda HOST.

Kalau aku sih berpendapat Masjidil Haram terlalu 'rendah' untuk dijadikan sekadar simbol 'kerukunan keluarga'. Tempat itu punya status yg lebih tinggi. Mungkin pasangan2 itu look for symbolism. And symbolism is all they got.

Mungkin sih.

Ini logika macam apa? Logika spiritual kali. Atau logika chaos, whatever you call it.

Tapi jelas bukan logika cartesian yg ente pake itu. :)

Blogger Benx »
25 June, 2009 09:34  

@ikram : barang mahal banget tuh ngopi2 di jumat malam sekarang, lagian ada undangan ke independence day nih, baru balik tgl 5 july.

lanjut tulisan baru lagi aja lah ;-)

Anonymous boodee »
26 June, 2009 08:35  

lo mau nikah dimana,kram?

Anonymous Daus »
30 June, 2009 22:13  

Lucunya, ada pengomentar yang menganggap ini serius juga :P

1. Betul, alur logika tulisan itu bermasalah sejak awal.

2. Tidak menjadi soal apakah ini berita gosip atau bukan, logika itu tetap bermasalah.

(Loh kok jadi ikutan serius :D)

Anonymous sigit »
04 July, 2009 18:57  

tempo emang gak kredibel tuh media nya.

Yang benar adalah: pernikahan selebriti banyak yang gagal karena dikomporin oleh wartawan gosip

*eh, gw gak lupa nulis "gosip"nya kan? :D

Blogger Lida »
15 July, 2009 13:55  

Teu baleg pisan. Sekalian aja: "Jangan kawin, banyak loh yang cerai." Hahaha...

Anonymous Anonymous »
15 July, 2009 21:26  

itu memang sengaja dgn tujuan menjelek-jelekkan Islam
banyak kok orang2 seperti Danang itu yg ga suka dgn hal2 yg berbau Islam

Blogger ikram »
16 July, 2009 09:17  

@Anonymous, Wah saya kurang tahu euy kalau preferensi politik atau ideologi si wartawan.

(Lagipula bisa saja si wartawan sekedar menjalankan tugas peliputan dari redaktur)

Tapi apakah menikah di Makkah itu ajaran Islam? Perasaan bukan deh. Menikah, iya. Tapi kalau harus di Makkah?

Leave a reply Back to home

tentang saya

tulisan sebelumnya

arsip

IkramPutra©2010 | thanks for stopping by